Membaca dan Menulis: Peran Siapa? #HUTBBI5

Ketika mendengar kata membaca, apakah yang terbayang di benak kita? Apakah suatu kegiatan yang membosankan dimana menjadi seorang yang penyendiri sejenak dengan buku di tangan? Atau mendadak dihinggapi rasa kebosanan karena membaca bahan pelajaran yang begitu banyak? Atau membuat suasana menarik dengan mempersiapkan sofa baca dengan sepiring makanan ringan dan alunan musik lembut? Atau identik dengan kacamata nan tebal? Sebuah penelitian pada pembaca muda pada tahun akhir tahun 2007 yang dilakukan oleh National Literacy Trust (NLT) untuk menjawab: pertama, apa definisi membaca dan apa yang dirasakan oleh pembaca muda ketika mereka dianjurkan untuk membaca. Kedua, peran penting keluarga pada persepsi orang muda mengenai diri mereka sebagai pembaca.

Bed Time Reading | sumber: cartoonstock.com


Kembali ke penelitian tadi, hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa antara lain bahwa mereka yang menamakan dirinya bukan pembaca sesungguhnya sudah melakukan aktivitas membaca, aktivitas tersebut antara lain adalah membaca majalah, website atau blog. Hal ini dikarenakan adanya persepsi bahwa membaca itu adalah sesuatu yang sifatnya buku, akademis, sekolahan, demi masa depan. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana peran keluarga membentuk budaya membaca? Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan keluarga adalah poin penting dalam pembentukan budaya membaca bagi anak muda. 22,4% responden menjawab bahwa tidak ada satupun orang di rumah yang mendorong untuk membaca dan 13% responden percaya bahwa tidak ada satupun di rumah yang merupakan pembaca yang baik. Kesimpulan penelitian ini memperlihatkan bahwa umumnya orang muda (baca: anak-anak) menolak kebiasaan membaca dikarenakan orang di rumah tidak mempromosikan kegiatan membaca dan kemampuan mempelajari kepada mereka.

Tentu saja membuat sebuah aktivitas membaca menjadi menarik bukan persoalan mudah. Namun hal itu menjadi sebuah tantangan baru bagi para orang tua maupun pendidik bagaimana konsep membaca bukan lagi sesuatu yang serius ataupun semata-mata berkaitan dengan dunia akademis, namun menjadi sesuatu kegiatan yang mengasyikkan. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain: pertama, membaca sebuah buku yang memiliki filmnya. Sebagai contoh buku Kate di Camillo, The Tale of Desperaux dapat dibaca secara bersama-sama sebelum menonton filmnya. Contoh buku lokal seperti Laskar Pelangi. Kedua, membaca buku yang memuat cerita dan tempat yang hendak dikunjungi. Sebagai contoh, membaca buku Gereja-gereja Tua di Jakarta karangan Adolf Heuken, SJ sebelum mengunjungi gereja-gereja tersebut dapat menambah pengetahuan anak-anak tentang tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar mereka. Ketiga, membacakan dongeng/bercerita yang bersumber dari buku. Pada dasarnya manusia lebih mengingat cerita dibandingkan nasihat, bercerita sudah dikenal dari zaman dulu sebagai media komunikasi. Membacakan majalah anak atau buku cerita bergambar dapat dilakukan secara kreatif untuk memancing ketertarikan anak pada cerita, selanjutnya terus mencari sumber-sumber cerita baru. Keempat, mengajak anak-anak ke perpustakaan untuk mengenal buku-buku bacaan yang lain, disamping mencari tempat membaca yang nyaman dan tenang. Permasalahan selanjutnya adalah kita dapat mengajar pada anak-anak bagaimana caranya membaca, namun belum ke tahap bagaimana menjadi pembaca, apalagi untuk menyukai genre tertentu. Namun paling tidak, kita sudah membentuk budaya. Ketika budaya telah terbentuk, selanjutnya tinggal memodifikasi/mengubah jenis bacaan yang sesuai dengan anak-anak kita.


Komunitas

Data-data tentang tradisi membaca Indonesia, masih rendah dibanding negara lain, mari kita lihat data-data berikut:

  1. hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada 5-6 September 2015. Hasilnya, rata-rata lama membaca buku warga Indonesia hanya 6 jam per minggu (Kompas 15/9/2015).
  2. warga India yang rata-rata membaca buku 10 jam per minggu, Thailand 9 jam per minggu, dan Tiongkok 8 jam per minggu.
  3. Survei Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) 2012 menunjukkan, hanya satu dari 1.000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca serius. Rata-rata, kurang dari satu buku yang dibaca per tahun.
Silakan berhitung dengan jam baca Anda seminggu :)

Saya pernah mengikuti sebuah diskusi bertema “Think Global Act Social” di Institut Teknologi Bandung, salah satu pembicaranya adalah Marco Wijaya, salah seorang arsitek, dari diskusi itu saya mendapat pencerahan bahwa acapkali negara belum hadir secara total dalam kebutuhan warganegaranya, antara lain dalam perkotaan serta kehidupan sosial di dalamnya. Karena itu, perlu digagas ruang untuk bersolidaritas dan ruang menciptakan keadilan dalam wadah komunitas.
Saat ini isu dunia literasi adalah tingkat antara lain tingkat membaca yang rendah, gulung tikarnya penerbit-penerbit kecil, serbuan buku elektronik yang murah, rendahnya akses masyarakat terhadap perpustakaan umum, daya beli masyarakat yang rendah terhadap buku, dan serangkaian permasalahan lainnya.


Kita bisa mengintip isu di Korea Selatan. Di Seoul memiliki 3.000 penerbit, kita-kira setiap tahun ada 20.000 judul buku baru di Korea. Khusus buku sastra, sebuah penerbit Munhakdongne Publishing, menerbitkan 250 judul setiap tahun. Setiap kali terbit, dicetak 2.000 eksemplar hingga 1000.000 eksemplar, dan dalam dua bulan buku-buku tersebut habis terjual. Tradisi membaca negara ini sudah teruji. Di tengah perang Korea pun, mereka menyempatkan diri untuk membaca buku. Saat ini, terdapat 200-300 penulis produktif, dimana diantaranya sekitar 50 orang yang bisa hidup dari menulis, selebihnya masih menjadikan menulis sebagai pekerjaan sambilan. Yang menarik adalah, penerbitpun berkolaborasi untuk berinvestasi. Tidak semua penerbit membangun pabrik atau gedung, mereka bisa berbagi dengan pabrik-pabrik lain. Inilah salah satu cara bertahan dalam industri buku yang sedang mengalami tekanan.

Salah satu contoh menarik dari Heni Wardatur Rohmah, ia meminjamkan koleksi buku perpustakaan keluarganya kepada sekolah-sekolah yang membutuhkan di daerah Yogyakarta. Koleksi bukunya dari tahun 2002 hingga 2014 berjumlah 600 eksemplar, ia meminjamkan koleksinya tersebut di beberapa sekolah dasar di Kabupaten Sleman. Sebelumnya ia melakukan survey dan mendapati bahwa umumnya sekolah tidak memiliki buku bacaan bermutu yang menarik minat anak-anak. Saat ini perpustakaannya telah menjadi Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Mata Aksara dan mendapat sumbangan dari Pemerintah Kab Sleman berupa motor untuk menjangkau masyarakat yang selama ini mengalami keterbatasan akses terhadap beragam buku bacaan.

Kita lirik komunitas di Bandung, pada diskusi "Jiwa Muda Koleksi Tua" pada pertengahan Januari lalu, Ryzki Wiryawan, salah seorang penikmat buku tua menyatakan bahwa buku-buku tua miliknya ikut membantu merampungkan studi hingga penelitian ilmiah. Indra Prayana, pemilik koleksi buku lawaas Bandung di perpustakaan ukuran 4x6 meter di kawasan Antapani, Bandung, menyatakan bahwa ia sudah dihubungi oleh pihak perpustakaan lain untuk mendigitalisasi koleksi bukunya yang ingin mendalami masalah kesundaan. Deny Rahman, penjual buku lawas di Balubur Town Square menyatakan bahwa dokumen dan buku lawas akan lebih berguna jika banyak orang bisa belajar. bahwa hal itulah yang diinginkan para penulis buku terdahulu agar isi dalam buku berguna untuk generasi selanjutnya. Selanjutnya dengan buku lawas, banyak komunitas jalan-jalan sejarah tumbuh. Deny menjadi satu dari 30 orang yang menapaki jejak sejarah penanam teh asal Belanda, RE Kerkhoven, di Gambung, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung. Diinisiasi kelompok jalan-jalan sejarah, Balad Junghuhn dan Tjimahi Heritage, acara itu mengambil referensi dari buku Sang Juragan Teh karya Hella S Haasse. komunitas jalan-jalan lainnya, mooibandoeng, yang diprakarsai Ridwan Hutagalung, juga menggelar perjalanan serupa ke Garut. Acara ini adalah rangkaian kegiatan ”Mengenal Riwayat Preangerplanters” yang digelar bersama Komunitas Aleut.

Menjadi Komunitas yang Berkarya

Apa yang dapat kita petik dari pengalaman di atas. Pertama, adalah kesadaran komunal. Sebuah kegelisahan akan situasi yang tidak menguntungkan di sekitar kita diwujudkan dalam tindakan. Kedua, tindakan nyata. Bercermin pada apa yang dilakukan Heni adalah suatu terobosan luar biasa. Menyalakan sebatang lilin di tengah kegelapan. Anda bisa hitung berapa koleksi anda, dan sejauh apa koleksi buku anda berguna bagi orang lain? Ketiga, berbagi sumber daya. Dalam situasi sulit maupun senang, kita haruslah berbagi. Dari penerbit di atas yang berbagi sumber daya, pembaca yang berbagi koleksi buku, dan tentu saja berbagi kehidupan. Akankah kita terus mengutuki harga buku yang mahal di tengah orang-orang yang tidak mampu membelinya?

Hari ini komunitas Blogger Buku Indonesia merayakan ulang tahun kelima. Tentu bagi kita bukan perkara yang mudah untuk menjaga terus komitmen dengan jam baca dan jam menulis yang konsisten. Namun, kita masih punya sahabat-sahabat yang memberi semangat serta tugas kita menyemangatinya, agar terus berkarya. komunitas inipun terus berkembang dengan mewadahi kebutuhan berbagi sumber daya dan informasi seperti aggregator, forum, dan media sosial lainnya.   Saya sendiri pernah ditanya, bagaimana BBI mendanai kegiatannya? Darimana sumber dananya? Saya hanya tersenyum menyatakan bahwa BBI mendanai diri sendiri dari kecintaan teman-teman terhadap komunitas ini. BBI sendiri mengalami evolusi naik-turun dalam perkembangannya, namun  satu tujuan yang mempersatukan: mewujudkan kecintaan pada buku dengan menyebarkannya pada orang-orang. Itu saja.

Saya pribadi berharap dari BBI akan bermunculan penulis-penulis buku. Karena buku harus terus ditulis, untuk pewaris kelak.

Dirgahayu komunitas Blogger Buku Indonesia kelima.


Salam,

Helvry Sinaga
BBI 1301041
http://blogbukuhelvry.blogspot.com/





Previous
Next Post »

3 comments

Write comments
Evyta Ar
AUTHOR
13 April, 2016 12:02 delete

membiasakan anak-anak membaca sejak kecil sangat berpengaruh besar buat perkembangan minat bacanya. kalau yang pernah saya baca, salah satu metode untuk memancing minat baca anak saat masih kecil bisa dengan metode read aloud, menceritakan kembali, semacam itu.

terkait komunitas yang berkarya, berharap BBI juga bisa menjadi salah satu kontributor buat masyarakat Indonesia yang cinta baca dan tulis. dimulai dari member-membernya yang perhatian dengan dunia literasi dan dunia buku, itu sebenarnya sudah bagus sekali. dari person-person yang ada, saya lihat sudah mulai banyak yang terjun ke masyarakat langsung lewat rumah bacanya, perpusnya, atau hobi menulisnya. jempol buat BBI.

plus, usulan buat member BBI yang diharapkan juga bisa menulis buku, mungkin bisa dimulai lewat masing-masing membernya yang bikin buku kumpulan resensi/review, bagus juga kan hehe. udah ada yang buat kalo ga salah kayak mbak Luckty. atau bikin buku tentang kesan atau pengalaman di BBI, apa aja terkait BBI, dijadikan antologi. kontributornya ya member BBI semua :D

selamat bertambah umur BBI, semoga makin keren dan makin bermanfaat.

Reply
avatar
Ipeh Alena
AUTHOR
13 April, 2016 20:09 delete

Setidaknya, BBI merupakan komunitas yang masih 'mau' berjuang memberikan wadah bagi para pembaca dan peresensi buku. Sebagai seorang yang menjadi bayangan pada komunitas ini, saya selalu melihat dan menilai, BBI setidaknya sudah benar2 mengembangkan sayapnya dengan baik. Tinggal mempertahankan dan mengoptimalkan.


Terkait minat baca, sungguh, setidaknya apa yg Bebi dan kawan2 Bebi yang lain lakukan, sudah menjadi sebuah pendorong untuk mengusahakan tingkat minat baca seluruh lapisan masyarakat.


Jadi, teruslah memegang teguh Visi serta Misi sehingga tidak kehilangan arah.


Terima kasih Bebi,

Dari saya yg selalu menjadi bayang2 di komunitas ini.

Reply
avatar
adenjatra
AUTHOR
19 April, 2016 22:54 delete

jadi ngerti, bagus pembahasanya

Reply
avatar