Mengintip Perpustakaan Abad Pertengahan Melindungi Buku

Sebelum mesin cetak buku dikenal, buku-buku di abad pertengahan dibuat dan diperbanyak secara manual. Setiap buku ditulis dan disalin secara terampil dan teliti menggunakan tulisan tangan, dijilid secara manual menggunakan bahan-bahan berkualitas, dan membutuhkan ribuan jam kerja untuk menyelesaikannya. Inilah yang membuat buku-buku tersebut menjadi sangat langka dan berharga untuk dilindungi. Di akhir abad pertengahan, saat perpustakaan mulai bisa diakses untuk umum, buku-buku tersebut disimpan dan ditampilkan dengan cara yang tidak biasa bagi kita di zaman modern ini.

Pernah mendengar istilah chained library? Barangkali istilah itu terdengar asing di telinga kita. Kalau diterjemahkan ke Bahasa Indonesia artinya kira-kira menjadi perpustakaan yang dirantai, di mana buku-buku koleksinya dihubungkan pada rak buku menggunakan rantai panjang yang memungkinkan pengunjung mengambil buku tersebut dan membacanya, tetapi tidak bisa keluar dari perpustakaan itu sendiri. Cara ini bertujuan untuk mencegah pencurian terhadap buku-buku. Namun, dikarenakan proses pemasangan rantai ini membutuhkan dana yang mahal, maka tidak semua koleksi buku perpustakaan itu dirantai. Hanya koleksi yang lebih berharga saja yang dirantai, termasuk buku tebal atau besar dan buku referensi.

Buku yang dirantai dari Perpustakaan Guildhall, London - Kredit foto

Rantai tersebut dipasang di sudut atau sampul buku untuk meminimalisir kerusakan buku, sebab apabila dirantai pada punggung buku, kerusakan akan lebih besar akibat stress gerakan keluar masuk rak. Karena buku terhubung dengan rantai, maka posisi buku tersebut diletakkan dengan cara berbeda dari perpustakaan kontemporer. Kalau kita biasa menelusuri rak buku dengan punggung buku menghadap ke kita, maka di chained library abad pertengahan justru sebaliknya, tepi buku menghadap ke pembaca, bukan punggung bukunya, sehingga pengunjung tidak bisa melihat langsung judul-judul apa saja yang ada di rak tersebut. Hal ini dimaksudkan agar buku dapat dikeluarkan dan dimasukkan kembali dengan mudah tanpa perlu dibalik atau diputar untuk menghindari rantai menjadi kusut. Hanya pustakawan yang bisa melepaskan buku menggunakan kunci.

Ketika mesin cetak sudah mulai dikenal, proses perbanyakan buku tentunya menjadi lebih mudah. Hal ini otomatis menyebabkan nilai buku dan kelangkaannya menurun drastis. Di akhir tahun 1800-an,  kebiasaan merantai buku ini akhirnya menghilang dengan sendirinya.

Saat ini, hanya ada beberapa chained library yang masih bertahan untuk tujuan pelestarian. Di mana saja ya perpustakaan unik tersebut? Cekidot!

Perpustakaan Katedral Hereford 

Salah satu perpustakaan berrantai terbesar yang masih bertahan adalah Perpustakaan Katedral Hereford di Hereford, Inggris, yang telah berdiri sejak tahun 1611. Perpustakaan ini menyimpan buku-buku dan manuskrip tua, yang sebagiannya merupakan tulisan tangan dengan ilustrasi indah dalam berbagai warna, termasuk emas. Dua koleksi paling berharganya adalah salinan Hereford antiphonary dari abad ke-13 dan salinan Hereford Gospel dalam karakter Anglo-Saxon dari sekitar tahun 780, yang merupakan volume Injil tertua di perpustakaan ini.

Kredit foto: medievalfragments

Perpustakaan Wimborne Minster 


Perpustakaan ini berada di Inggris dan merupakan perpustakaan berrantai terbesar kedua. Dibangun tahun 1686, perpustakaan ini memiliki 150 buku yang masih dirantai hingga saat ini.

Kredit foto: warrenfamilyhistory


Librije: Perpustakaan Zutphen

Perpustakaan ini berlokasi di gereja St. Walburgis kota Zutphen, Belanda, sejak abad ke-16. Sedangkan gerejanya sendiri dibangun pada abad ke-11. Buku-buku tua di perpustakaan ini masih dirantai di meja kayu tua tempat para pengunjung membaca buku.

Kredit foto: medievalfragments

Kredit foto: Jim Forest

Perpustakaan Katedral Wells 

Perpustakaan ini terletak di Katedral Wells, Inggris. Buku-buku yang dikoleksi sebagian besar adalah buku-buku terbitan sebelum tahun 1800. Beberapa koleksinya berupa 2.800 volume buku dengan tema seputar sejarah, teologi, medis, sains, eksplorasi hingga bahasa. Perpustakaan ini juga memiliki koleksi yang sangat berharga dari tahun-tahun awal. Di antara koleksi tertuanya adalah Pliny Naturalis Historiae yang dicetak di Venesia pada 1472, Vesalius’ De Humanis Corporis Fabrica terbitan 1555 yang digembar-gemborkan sebagai buku anatomi awal munculnya biologi sebagai subjek, serta buku atlas dunia terlengkap paling awal karya Abraham Ortelius yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris pada tahun 1606.

Kredit foto: Wells Cathedral

Perpustakaan Royal Grammar School

Perpustakaan ini terletak di dalam Galeri (sekarang ruangan kepala sekolah) di bangunan lama Royal Grammar School, Guildford, Inggris, di mana rak bukunya berasal dari tahun 1897. Perpustakaannya sendiri dibangun di akhir abad ke-16. Buku paling tua yang dikoleksinya adalah cetakan Venesia tahun 1480, dengan buku berbahasa Inggris tertua yang dicetak sekitar tahun 1500-an dari imprint Wynkyn de Worde.

Kredit foto: Rabinal

Perpustakaan Francis Trigge 

Berada di Grantham, Inggris, perpustakaan umum yang dibangun pada 1598 ini merupakan perpustakaan pertama di Inggris yang memiliki 356 koleksi. Dan 80 di antaranya masih memiliki rantai pengaman, yang sudah direstorasi tahun 1884. Perpustakaan ini memiliki beberapa koleksi langka yang dicetak sebelum tahun 1500-an.

Kredit foto: Discoverstwulframs

Biblioteca Malatestiana

Biblioteca Malatestiana dibuka tahun 1454 di Cesena, Italia. Perpustakaan ini masih mengoleksi buku-buku yang dirantai ke meja miring dengan besi tempa.

 Kredit foto: standrewsschoolofhistory

Sebenarnya masih ada beberapa chained library lainnya yang tetap bertahan, tetapi yang disebutkan di atas merupakan perpustakaan-perpustakaan yang cukup besar dan dikenal luas.

Peninggalan sejarah di bidang kepustakaan ini memang sangat unik dan langka. Betapa dulunya buku-buku teramat berharga dan membutuhkan jerih payah yang luar biasa untuk bisa membuat satu buku saja. Melindunginya dengan cara ekstrem seperti dirantai bukanlah sesuatu yang berlebihan rasanya, mengingat pada abad pertengahan, belum ada sistem kunci listrik atau digital seperti di era modern kita hidup saat ini.

Selain melestarikan buku-buku secara fisiknya, generasi penerus tentunya memiliki kewajiban untuk melestarikan substansi dari buku itu sendiri, yakni terus membacanya dan menyebarkan kebaikan yang ada di dalamnya, serta mengajak orang lain untuk terus berminat dan perhatian terhadap buku dan perpustakaan.

Lantas bagaimana ya kira-kira cara perpustakaan di Indonesia pada masa lampau melindungi koleksinya? Lalu bagaimana pula dengan Anda, para kolektor buku, penimbun buku, pecinta buku, mengamankan bukunya masing-masing? Apakah ada yang seekstrem ini? :D

Referensi: Amusing Planet | Wikipedia | PagiIni

***

Kontributor:
Evyta Ar | BBI1304123 | www.lensabuku.com
Previous
Next Post »

2 comments

Write comments
24 June, 2016 08:39 delete

hampir rata-rata perpustakaannya di Inggris ya kak... :D
Kereennn... Terima kasih infonya ^^

Reply
avatar